Mimpi dan Realitas dari ''Facebook'' ke Sastra
APAKAH Anda punya akun facebook atau twitter? Atau akun pada jejaring sosial lain yang juga berisi ungkapan hati dan pikiran teman-teman kita dalam satu jaringan tersebut? Saya sering memperhatikan unggahan teman-teman dalam jejaring tersebut, kadang saya juga iseng melihat-lihat foto yang telah mereka unggah di sana. Dari kegiatan menjadi hantu cyber yang menyelinap sana sini di dunia maya tersebut saya mencatat dua hal.
Kamis, 12 Januari 2012
Notebook Antipornografi dan Antinarkoba
PERUSAHAAN teknologi informasi Acer meluncurkan produk notebook khusus bagi kalangan pelajar yang dilengkapi dengan piranti lunak antipornografi, antialkohol, dan antinarkoba. Kepala Pemasaran dan Humas Acer Group Indonesia Helmy Anam, di Bandung, mengatakan, produk unggulan itu dilengkapi berbagai piranti khusus untuk menolak laman yang mengandung isi pornografi.
'Notebook Acer Aspire 4253
Kamis, 01 Desember 2011
NAMA SISWA YANG BELUM ADA NILAI KLEPING
NAMA SISWA YANG BELUM ADA NILAI KLIPING TATA SURYA
1. PUTU DIAN AYUNINGTYAS ( KELAS X2/ NO ABSEN 4 )
2. PUTU ASTRI ASTITI ( KELAS X2 / NO ABSEN 25 )
3. I B TILEM EKA YOGA PRATAMA ( KELAS X4 / NO ABSEN 5 )
4, I MADE WAHYU PRANATA ( KELAS X4 / NO ABSEN 14 )
NB. Jika siswa yang bersangkutan sudah mengumpul mohon dikonfirmasikan pada guru yang bersangkutan terima kasih.
Kamis, 24 November 2011
Rabu, 05 Oktober 2011
Di Bali dikenal satu bait sastra yang intinya digunakan sebagai slogan lambang negara Indonesia, yaitu: Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Manggrua, yang bermakna 'Kendati berbeda namun tetap satu jua, tiada duanya (Tuhan - Kebenaran) itu'. Bisa dipahami jika masyarakat Bali dapat hidup berdampingan dengan pemeluk agama lain seperti Islam, Kristen, Budha, dan lainnya. Pandangan ini merupakan bantahan terhadap penilaian sementara orang bahwa Agama Hindu memuja banyak Tuhan. Kendati masyarakat Hindu di Bali menyebut Tuhan dengan berbagai nama namun yang dituju tetaplah satu, Tuhan Yang Maha Esa atau Ida Sang Hyang Widhi Wasa.
Dewa Brahma, Wisnu, dan Siwa, yang disebut Tri Murti, kendati terpilah tiga, namun terkait satu jua sebagai proses lahir-hidup-mati atau utpeti-stiti-pralina. Dewata Nawa Sanga sebagai sembilan Dewata yang menempati delapan arah mata angin dan satu di tengah kendati terpilah sembilan lalu menjadi sebelas tatkala terpadu dengan lapis ruang ke arah vertikal bawah-atas-tengah atau bhur-bwah-swah, adalah satu jua sebagai kekuatan Tuhan dalam menjaga keseimbangan alam semesta. Demikian pula halnya dengan nama dan sebutan lain yang dimaksudkan secara khusus memberikan gelar atas ke-Mahakuasa-an Tuhan.
Keyakinan umat Hindu terhadap keberadaan Tuhan/Hyang Widhi yang Wyapi Wyapaka atau ada di mana-mana juga di dalam diri sendiri - merupakan tuntunan yang selalu mengingatkan keterkaitan antara karma atau perbuatan dan pahala atau akibat, yang menuntun prilaku manusia ke arah Tri Kaya Parisudha sebagai terpadunya manacika, wacika, dan kayika atau penyatuan pikiran, perkataan, dan perbuatan yang baik.
Umat Hindu percaya bahwa alam semesta beserta segala isinya adalah ciptaan Tuhan sekaligus menjadi karunia Tuhan kepada umat manusia untuk dimanfaatkan guna kelangsungan hidup mereka. Karena itu tuntunan sastra Agama Hindu mengajarkan agar alam semesta senantiasa dijaga kelestarian dan keharmonisannya yang dalam pemahamannya diterjemahkan dalam filosofi Tri Hita Karana sebagai tiga jalan menuju kesempurnaan hidup, yaitu:
Hubungan manusia dengan Tuhan; sebagai atma atau jiwa dituangkan dalam bentuk ajaran agama yang menata pola komunikasi spiritual lewat berbagai upacara persembahan kepada Tuhan. Karena itu dalam satu komunitas masyarakat Bali yang disebut Desa Adat dapat dipastikan terdapat sarana Parhyangan atau Pura, disebut sebagai Kahyangan Tiga, sebagai media dalam mewujudkan hubungan manusia dengan Ida Sang Hyang Widhi. Hubungan manusia dengan alam lingkungannya; sebagai angga atau badan tergambar jelas pada tatanan wilayah hunian dan wilayah pendukungnya (pertanian) yang dalam satu wilayah Desa Adat disebut sebagai Desa Pakraman.
Hubungan manusia dengan sesama manusia; sebagai khaya atau tenaga yang dalam satu wilayah Desa Adat disebut sebagai Krama Desa atau warga masyarakat, adalah tenaga penggerak untuk memadukan atma dan angga.
Pelaksanaan berbagai bentuk upcara persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa oleh umat Hindu disebut Yadnya atau pengorbanan/korban suci dalam berbagai bentuk atas dasar nurani yang tulus. Pelaksanaan Yadnya ini pada hakekatnya tidak terlepas dari Tri Hita Karana dengan unsur-unsur Tuhan, alam semesta, dan manusia.
Didukung dengan berbagai filosofi agama sebagai titik tolak ajaran tentang ke-Mahakuasa-an Tuhan, ajaran Agama Hindu menggariskan pelaksanaan Yadnya dalam lima bagian yang disebut Panca Yadnya, yang diurai menjadi:
1. Dewa Yadnya
Persembahan dan pemujaan kepada Ida Sang Hyang Widhi Wasa, Upacara Dewa Yadnya ini umumnya dilaksanakan di berbagai Pura, Sanggah, dan Pamerajan (tempat suci keluarga) sesuai dengan tingkatannya. Upacara Dewa Yadnya ini lazim disebut sebagai piodalan, aci, atau pujawali.
2. Pitra Yadnya
Penghormatan kepada leluhur, orang tua dan keluarga yang telah meninggal, yang melahirkan, memelihara, dan memberi warna dalam satu lingkungan kehidupan berkeluarga. Masyarakat Hindu di Bali meyakini bahwa roh leluhur, orang tua dan keluarga yang telah meninggal, sesuai dengan karma yang dibangun semasa hidup, akan menuju penyatuan dengan Ida Sang Hyang Widhi Wasa. Keluarga yang masih hiduplah sepatutnya melaksanakan berbagai upacara agar proses dan tahap penyatuan tersebut berlangsung dengan baik.
3. Rsi Yadnya
Persembahan dan penghormatan kepada para bijak, pendeta, dan cerdik pandai, yang telah menetapkan berbagai dasar ajaran Agama Hindu dan tatanan budi pekerti dalam bertingkah laku.
4. Manusia Yadnya
Suatu proses untuk memelihara, menghormati, dan menghargai diri sendiri beserta keluarga inti (suami, istri, anak). Dalam perjalanan seorang manusia Bali, terhadapnya dilakukan berbagai prosesi sejak berada dalam kandungan, lahir, tumbuh dewasa, menikah, beranak cucu, hingga kematian menjelang. Upacara magedong-gedongan, otonan, menek kelih, pawiwahan, hingga ngaben, adalah wujud upacara Hindu di Bali yang termasuk dalam tingkatan Manusa Yadnya.
5. Bhuta yadnya
Prosesi persembahan dan pemeliharaan spiritual terhadap kekuatan dan sumber daya alam semesta. Agama Hindu menggariskan bahwa manusia dan alam semesta dibentuk dari unsur-unsur yang sama, yaitu disebut Panca Maha Bhuta, terdiri dari Akasa (ruang hampa), Bayu (udara), Teja (panas), Apah (zat cair), dan Pertiwi (zat padat). Karena manusia memiliki kemampuan berpikir (idep) maka manusialah yang wajib memelihara alam semesta termasuk mahluk hidup lainnya (binatang dan tumbuhan).
Panca Maha Bhuta, yang memiliki kekuatan amat besar, jika tidak dikendalikan dan tidak dipelihara akan menimbulkan bencana terhadap kelangsungan hidup alam semesta. Perhatian terhadap kelestarian alam inilah yang membuat upacara Bhuta Yadnya sering dilakukan oleh umat Hindu baik secara insidentil maupun secara berkala. Bhuta Yadnya memiliki tingkatan mulai dari upacara masegeh berupa upacara kecil dilakukan setiap hari hingga upacara caru dan tawur agung yang dilakukan secara berkala pada hitungan wuku (satu minggu), sasih (satu bulan), sampai pada hitungan ratusan tahun.
Provinsi Bali merupakan daerah pegunungan dan perbukitan yang meliputi sebagian besar wilayah. Relief Pulau Bali merupakan rantai pegunungan yang memanjang dari barat ke timur. Di antara pegunungan itu terdapat gunung berapi yang masih aktif, yaitu Gunung Agung (3.142 m) dan Gunung Batur (1.717 m). Beberapa gunung yang tidak aktif lainnya mencapai ketinggian antara 1.000 - 2.000 m.
Rantai pegunungan yang membentang di bagian tengah Pulau Bali menyebabkan wilayah ini secara geografis terbagi menjadi dua bagian yang berbeda, yaitu Bali Utara dengan dataran rendah yang sempit dari kaki perbukitan dan pegunungan dan Bali Selatan dengan dataran rendah yang luas dan landai. Ditinjau dari kemiringan lerengnya, Pulau Bali sebagian besar terdiri atas lahan dengan kemiringan antara 0 - 2 % sampai dengan 15 - 40 %. Selebihnya adalah lahan dengan kemiringan di atas 40 %.
Sebagai salah satu kriteria untuk menentukan tingkat kesesuaian lahan, maka lahan dengan kemiringan di bawah 40 % pada umumnya dapat diusahakan asal persyaratan lain untuk penentuan lahan terpenuhi. Sedangkan lahan dengan kemiringan di atas 40 % perlu mendapat perhatian bila akan dijadikan usaha budidaya.
Lahan dengan kemiringan 0 - 2 % mendominasi daerah pantai bagian selatan dan sebagian kecil pantai bagian utara Pulau Bali, dengan luas areal 96,129 ha. Sedangkan lahan dengan kemiringan 2 - 15 % sebagian besar terdapat di wilayah Kabupaten Badung, Tabanan, Gianyar, Buleleng, dan sisanya tersebar secara merata di daerah sekitar pantai dengan luas mencapai 132.056 ha.
Daerah dengan kemiringan 15 - 40 % meliputi areal seluas 164.749 ha secara dominan terdapat di wilayah bagian tengah Pulau Bali, mengikuti deretan perbukitan yang membentang dari arah barat ke timur wilayah ini. Daerah dengan kemiringan melebihi 40 % merupakan daerah pegunungan dan perbukitan yang terletak pada bagian Pulau Nusa Penida.
Ditinjau dari ketinggian tempat, Pulau Bali terdiri dari kelompok lahan sebagai berikut:
* Lahan dengan ketinggian 0 - 50 m di atas permukaan laut mempunyai permukaan yang cukup landai meliputi areal seluas 77.321,38 ha.
* Lahan dengan ketinggian 50 - 100 m di atas permukaan laut mempunyai permukaan berombak sampai bergelombang dengan luas 60.620,34 ha.
* Lahan dengan ketinggian 100 - 500 m di seluas 211.923,85 ha didominasi oleh keadaan permukaan bergelombang sampai berbukit.
* Lahan dengan ketinggian 500 - 1.000 m di atas permukaan laut seluas 145.188,61 ha.
* Lahan dengan ketinggian di atas 1.000 m di atas permukaan laut seluas 68.231,90 ha.
Rabu, 28 September 2011
Perairan Bali Waspadai Badai Tropis Nesat
Dalam dua minggu terakhir ini terjadi tiga kecelakaan kapal di perairan Bali. Setelah di Nuda Penida yang menewaskan sebelas orang, peristiwa serupa terjadi juga di Buleleng di mana satu ABK hilang. Sementara kecelakaan terakhir terjadi di perairan di Tabanan, Rabu kemarin, satu jukung nelayan terbalik. Ketiga peristiwa tersebut diakibatkan besarnya gelombang akhir-akhir ini. Lalu bagaimana Balai Besar Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Wilayah III Denpasar, Rabu (28/9) kemarin, memprediksi cuaca seminggu ke depan ini?
Kepala Bidang Data dan Informasi BMKG Wilayah III Denpasar, Drs. B. Endro Tjahjono, menyatakan kondisi perairan sekitar Pulau Bali masih aman, walaupun perlu diwaspadai kemungkinan terjadinya gelombang laut dengan tinggi dua meter berpeluang di perairan selatan Bali.
''Secara umum masih aman, kami belum memperoleh tanda-tanda membahayakan, kecuali kemungkinan terjadi gelombang tinggi hingga dua meter di Samudera Hindia selatan Bali hingga Nusa Tenggara dan Laut Timor,'' katanya Rabu kemarin.
Disebutkan, hasil prakiraan cuaca selama tiga hari ke depan, tinggi gelombang laut di perairan utara Bali-NTB mencapai 0,5-1,75 meter, perairan selatan Bali-NTB 0,75-2 meter, Selat Bali 0,5-1,5 meter, Selat Lombok 0,5-2 meter, dan Bali-Nusra 1,0 sampai 2 meter.
Berdasarkan analisis Isobar, terdapat badai (siklon) tropis Nesat di perairan sebelah utara Filipina yang bergerak menuju ke arah barat laut. Munculnya siklon tropis inilah yang mempengaruhi tinggi gelombang di perairan utara dan selatan Bali.
Dijelaskannya, siklon tropis tidak abadi, dan hanya memiliki waktu hidup rata-rata enam hari, setelah itu akan hilang dan kembali tenang. Namun diakuinya, siklon tropis suatu saat akan tetap muncul dengan nama lain. Bulan-bulan ini siklon tropis muncul di sebelah utara katulistiwa. ''Namun, kami juga mengimbau masyarakat khususnya yang beraktivitas di perairan untuk tetap waspada, karena diperkirakan Desember-Maret di belahan bumi selatan di sekitar perairan Indonesia akan muncul tekanan rendah dan bila aktif akan menjadi siklon tropis yang tentunya menyebabkan gelombang laut lebih tinggi dan angin kencang,'' jelasnya.
Melihat data prakiraan tersebut, aktivitas kepariwisataan di Bali tidak akan mengalami gangguan, kecuali pengoperasian kapal penangkap ikan di Samudera Hindia yang perlu waspada.
Sementara kondisi cuaca di Bali diprediksi diwarnai hujan dan tiupan angin yang masih tergolong normal. Suhu udara berkisar 22-32 derajat Celcius, dengan kelembaban udara berkisar 59-93%.
dirilis tgl 29 sep 2011
Selasa, 27 September 2011
Mitos Seputar Menstruasi
Mitos seringkali dipercaya, berkembang dalam masyarakat dengan penyampaian informasi yang kurang tepat, kurang lengkap dan bahkan terlalu berlebihan. Hal ini menimbulkan sikap antipati, defensif bahkan diskriminasi pada situasi tertentu. Sesudah mitos seputar seksualitas, selaput dara, ternyata mitos mengenai menstruasi juga beredar dalam masyarakat dan turun-temurun diberitahukan.
Tentunya kita juga sering dong mendengar mitos-mitos seperti di bawah ini. Agar tidak terjebak lebih dalam. Mari kita bandingkan mana yang mitos dan mana yang fakta agar tidak tersesat di kemudian hari.
Mitos: menstruasi membuat tubuh menjadi lemah.
Fakta: hasil penelitian menyebutkan bahwa darah menstruasi yang keluar banyaknya kira-kira hanya 50-150 ml atau sekitar empat sampai enam sendok saja. Jadi tidak benar kalau tubuh akan menjadi lemas hanya karena anda sedang menstruasi.
Mitos: sedang menstruasi berarti sedang sakit.
Fakta: justru sebaliknya, menstruasi adalah proses alami yang dialami oleh setiap perempuan produktif. Menstruasi berarti perempuan tersebut sehat dan sistem reproduksinya bekerja dengan normal sebagaimana mestinya.
Mitos: ingin menstruasi lancar, sering-seringlah minum soft drink.
Fakta: banyak yang percaya selain dapat memperlancar keluarnya darah, minum soft drink juga dapat mengurangi rasa sakit perut. Sebenarnya belum ada penelitian khusus mengenai hal ini. Sakit tidaknya perut saat menstruasi atau lancar tidaknya darah menstruasi yang keluar semua itu dipengaruhi oleh hormon serta faktor psikis seseorang.
Mitos: memakai pembalut saat menstruasi bisa menyebabkan kemandulan.
Fakta: secara medis justru pembalut merupakan metode selama masa menstruasi agar tetap bersih dan tidak lembab. Pada dasarnya semua pembalut itu sehat, walaupun sebagian perempuan ada juga yang mengalami alergi dan iritasi. Hal itu tergantung dari sensitivitas organ kelamin perempuan yang berbeda tiap orang. Disarankan agar saat menstruasi untuk sesering mungkin mengganti pembalut (idealnya setiap 4 jam), terutama ketika sedang banyak-banyaknya keluar darah menstruasi dan setelah buang air kecil atau besar.
Mitos: saat menstruasi dilarang berenang.
Fakta: selama memakai pembalut dan tidak merasa risih, berenang saat menstruasi boleh-boleh saja dilakukan dan sama sekali tidak berpengaruh pada kesehatan. Sebagai saran, jika perut merasa kram, barulah hentikan aktifitas berenang.
Mitos: menstruasi yang normal itu lamanya pasti seminggu.
Fakta: tentu saja pendapat ini salah. Setiap perempuan pasti memiliki masa menstruasi yang berbeda dan tidak selalu harus tujuh hari. Perempuan yang memiliki masa menstruasi tiga, empat, atau lima hari masih dianggap normal.
Mitos: jangan minum es saat menstruasi.
Fakta: sesungguhnya air dingin tidak memiliki efek apapun saat menstruasi. Terutama efek menghambat aliran darah. Selama tidak merasakan sakit ataupun perut kembung, minum air es sah-sah saja.
Gimana udah pada tahukan sekarang?
Mulai peduli yuk dengan kesehatan reproduksi kita dari sejak dini.
Langganan:
Postingan (Atom)



