Kamis, 12 Januari 2012

Mimpi dan Realitas dari ''Facebook'' ke Sastra APAKAH Anda punya akun facebook atau twitter? Atau akun pada jejaring sosial lain yang juga berisi ungkapan hati dan pikiran teman-teman kita dalam satu jaringan tersebut? Saya sering memperhatikan unggahan teman-teman dalam jejaring tersebut, kadang saya juga iseng melihat-lihat foto yang telah mereka unggah di sana. Dari kegiatan menjadi hantu cyber yang menyelinap sana sini di dunia maya tersebut saya mencatat dua hal.


Pertama, kesadaran pengguna akun sering tumpang tindih dalam penggarisbawahan antara ruang publik dan pribadi. Mereka mencurahkah isi hatinya seolah pada tuhan atau sahabat terdekatnya, semisal permasalahan seputar masalah pasangan yang baru saja bertengkar, berkencan, bahkan sehabis dicium pacar. Teman-temannya yang terhubung dan kebetulan membuka ''home'' akunnya dapat membaca curhat tersebut, baik itu teman akrab, kolega, atasan, guru, atau keluarganya. Kadang makian atau teriakan pada dunia seolah seluruh dunia mendengar teriakan kemarahannya juga beredar di jejaring tersebut, sedangkan pengaksesnya hanyalah teman-teman yang terhubung dan membuka jejaring tersebut. Mengakses dunia maya dari ruang-ruang pribadi kita kerab menjebak kita dalam kesadaran ruang, seolah itu ruang pribadi padahal publik, seolah publik tetapi pribadi. Kerancuan kesadaran ruang tersebut tidak terbatas pada usia muda saja yang masih sering disebut kaum labil, orang-orang dewasa dengan tingkat pendidikan tinggi juga melakukan hal yang sama. Artinya kerancuan tersebut tidak terbatas pada usia tertentu dan tingkat pendidikan tertentu. Kedua, mimpi dan realitas sebagai dua hal yang terpisah namun bisa saling mengakses atau bahkan simultan dalam kesadaran manusia sekarang. Selain masalah kesadaran ruang yang tumpang tindih, antara bermimpi dan mengalami kenyataan ternyata juga kehilangan batas tegasnya. Peristiwa nyata menjadi seperti mimpi, seperti ilusi, dan ilusi seperti realitas. Gugurnya Simoncelli di sirkuit saat balapan merupakan sebuah tragedi dalam realitas, tetapi ketragisan itu menjadi komedi saat diparodikan foto topeng monyet berhelm dengan motornya bergelimpang di rumput yang muncul di facebook pada hari yang sama, sesaat setelah pemberitaan kecelakaan maut Simoncelli. Disusul komentar-komentar yang menegaskan parodi peristiwa tersebut dan menjadikannya sebagai dagelan. Atau saat beberapa teman mengunggah berita kematian Khadafi dengan menautkan situs pemberitaannya, komentar-komentar terhadapnya juga menunjukkan kesadaran mereka yang rancu akan peristiwa dalam realitas dan ilusi, seolah kisah-kisah itu bagian dari film atau novel yang dikomentari tanpa emosi karena ''seolah'' fiktif yang hanya terjadi di negeri dongeng. Sementara tragedi sebagai sebuah peristiwa yang mengenaskan dan menimbulkan duka menjadi lelucon atau sekadar peristiwa yang kehilangan ruh ke-nyata-annya, emosi kemanusiaannya tereduksi. Dengan demikian realitas menjelma ilusi. Ilusi Pengalaman ilusi yang dibawa ke dalam realitas dan kita alami baru-baru ini adalah perwujudan Superman di Philipina. Seorang pemuda mengoperasi wajahnya mirip tokoh dalam komik yang difilmkan tersebut. Dia juga membuat kulitnya seputih tokoh khayalan tersebut dan mengkoleksi berbagai pernak-pernik yang berhubungan dengan sang manusia super, termasuk mengenakan kostum ala Superman. Teks posmodernis juga demikian, menghadirkan kerancuan kesadaran. Bila facebook, twitter atau berita-beritanya di cyber menunjukkan kerancuan antara yang nyata dan khayal, karya sastra posmodern memodelkan kerancuan yang dialami manusia itu dalam teknik penceritaan. Untuk novel Indonesia, sebut saja ''Bilangan Fu'' karya Ayu Utami, dia memfiktifkan dirinya sebagai pengarang di dalam karya dengan membicarakan Ayu Utami sebagai pengarang di dunia nyata, dalam cerita seolah Ayu bukanlah dirinya sang pengarang saat dinarasikan dalam cerita. Penceritaan demikian menggoyahkan kesadaran pembaca yang sedang menyelam dalam dunia fiksi tiba-tiba ditarik oleh teks yang dibacanya ke dunia nyata yang dialami. Atau novela ''Enchanted'' yang merupakan adaptasi dari film berjudul sama yang diproduksi Disney, permainan antara yang nyata dan yang khayal sejajar, kadang bertumpuk-tumpuk, kadang menyisip, atau misatribusi; membentuk label sebaliknya pada yang biasanya. Melalui genre yang ambigu, antara dongeng dan novel, Enchanted menghadirkan nyata dan khayal tanpa pemisahan yang tegas. Cerita-cerita dongeng yang menjadi interteksnya membangun ruang fantasi tetapi kisah kehidupan modern yang dialami tokoh dari negeri dongeng di negeri modern menghadirkan ruang novela dengan realismenya, ini menjadikan Enchanted dongeng yang menovel atau juga novel yang mendongeng. Demikianlah, karya sastra sebagai cerminan kehidupan, sebagai model atau maket dari realitas, bukan hanya masalah ceritanya yang mirip dengan cerita yang dialami orang di luar sana. Bentuk dan strategi penceritaan dalam karya sastralah yang bercerita tentang peradaban manusia melalui jejak pemikirannya. Aliran romantis, realis dadais, atau pun posmodernis memiliki strategi-srategi penceritaan yang saling membedakan. Kali ini karya posmodernis yang saya contohkan menjadi model dari masyarakat yang ada dalam realitas scizhophrenic (Jameson), yaitu keterputusan penanda-penanda untuk menghubungkan ke suatu urutan yang koheren. Kenyataan yang pastiche, lepas dari kesejarahannya dan menjadi ruang campur aduk yang banal.